- Diposting oleh : Hamba Allah
- pada tanggal : September 26, 2026
MELIHAT PIDATO BENJAMIN NETANYAHU
DARI PERSPEKTIF ALQURAN
Oleh Dr. Teuku Zulkhairi
PM Israel Benjamin Netanyahu menuduh para diplomat yang keluar (walk out) dari ruangan ketika ia berpidato di PBB sebagai “pengecut moral”.
Ketika menyerang para diplomat itu, Netanyahu sebenarnya sedang berusaha keras membalikkan posisi moral: menuduh orang lain pengecut agar perhatian dunia bergeser dari pertanyaan yang lebih besar tentang tindakan dan kebijakan pengecut moralnya di Palestina, Suriah hingga Lebanon. Dia menuduh orang lain atas sesuatu yang dia lakukan.
Sekali lagi, Netanyahu melemparkan tuduhan kepada orang lain atas sesuatu yang ia lakukan dan menjadi perhatian luas Masyarakat dunia, yaitu tindakan pengecut moralnya di Palestina, di Suriah, Lebanon dan sebagainya.
Netanyahu menyerang siapa saja demi membela kejahatannya dan lalu menuduh orang lain sebagai pengecut moral.
Itulah dipikal asli Yahudi sehingga Alquran banyak berbicara tentang karakter buruk mereka. Menariknya, Al-Qur’an banyak mengisahkan perilaku Yahudi untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia.
Al-Qur’an mengkritik sikap Yahudi menyembunyikan atau mengubah kebenaran, dimana dalam Al-Baqarah ayat 75 dan 79, Al-Qur’an mengecam orang-orang yang mengubah perkataan atau menulis sesuatu kemudian mengklaimnya sebagai berasal dari Allah.
Pelajaran dari Al-Qur’an ini jelas: kebenaran tidak boleh dimanipulasi demi kepentingan manusia. Dan Yahudi, melakukan persis seperti yang dilarang oleh Al-Qur’an. Maka di Tengah-tengah umat Islam, kadangkala kita sering mendengar orang menyebut “Jangan seperti Yahudi”, atau: “Bek lagee Yahudi”.
Al-Qur’an juga mengkritik sikap Yahudi yang mengingkari kebenaran setelah mereka mengetahuinya. Surah Al-Baqarah ayat 89 menggambarkan mereka yang sebelumnya mengharapkan kedatangan seorang nabi untuk memperoleh kemenangan, tetapi ketika datang sesuatu yang telah mereka kenali kebenarannya, mereka justru mengingkarinya.
Ini adalah gambaran tentang bagaimana kepentingan dan kesombongan dapat membuat seseorang menolak sesuatu yang sebenarnya telah mereka ketahui. Dan itu dimiliki sepenuhhnya oleh Yahudi yang diwakili Benjamin Netanyahu ini.
Kemudian juga, karakter Yahudi lainnya yaitu gemar “melanggar perjanjian”. Surah Al-Baqarah ayat 100 dan Al-Ma’idah ayat 13 mengingatkan tentang karakter Yahudi yang tidak menjaga perjanjian. Dalam pandangan Islam, amanah dan perjanjian bukan perkara kecil.
Ketika sebuah komitmen dilanggar, yang rusak bukan hanya hubungan antara dua pihak, tetapi juga kepercayaan dan keadilan. Tapi bagi Yahudi, “melanggar perjanjian” ini adalah karakter asli mereka.
Perhatikan berapa banyak perjanjian gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang dilanggar oleh Yahudi. Kenapa mereka melakukan seperti itu? Karena itu adalah karakter mereka. Dan Allah ingin agar kita tidak mengikuti karakter tersebut.
Al-Qur’an juga berbicara tentang karakter memutarbalikkan perkataan dari tempatnya atau tahrif al-kalim. Surah Al-Ma’idah ayat 13 dan 41 menggambarkan karakter Yahudi yang gemar mengubah atau memalingkan perkataan dari maknanya.
Begitu juga, karakter Yahudi lainnya tercermin dalam Kisah penyembelihan sapi dalam Al-Baqarah ayat 67–71 yang memberikan pelajaran tentang “banyak bertanya dengan cara yang justru mempersulit pelaksanaan perintah”.
Hakikatnya, mereka tidak ingin mengerjakan perintah Allah, maka berusaha untuk mendebat dengan pertanyaan-pertanyaan logika dan sebagainya yang tujuannya untuk tidak mengerjakan perintah tersebut.
Perintah yang pada awalnya sederhana menjadi semakin rumit karena pertanyaan-pertanyaan mereka yang terus berkembang.
Pelajaran dari karakter buruk Yahudi ini menjadi peringatan agar manusia tidak menjadikan perdebatan sebagai cara untuk menghindari kebenaran.
Al-Qur’an juga mengabadikan kisah Yahudi yang gemar “mencari celah untuk melanggar ketentuan Allah” dalam persoalan Sabat. Al-Baqarah ayat 65 dan Al-A’raf ayat 163–166 menceritakan ujian terhadap sebagian Bani Israil yang terkait dengan larangan menangkap ikan pada hari Sabat.
Mereka lalu melanggar perintah tersebut karena terlena dengan banyaknya ikan di laut pada hari Sabtu, sehingga mereka tetap melaut di hari sabtu yang sudah dilarang.
Al-Qur’an juga menyebut kejahatan Yahudi yang sangat berat, yaitu “membunuh para nabi tanpa alasan yang benar”. Surah Al-Baqarah ayat 61 dan 87 menyebut perilaku Yahudi terhadap para nabi.
Ini menggambarkan puncak pemberontakan terhadap kebenaran: bukan sekadar menolak pesan, tetapi berusaha menghilangkan pembawa pesan itu sendiri.
Jadi, jangankan manusia biasa, para Nabi yang berasal dari kalangan mereka saja mereka bunuh!
Dan kisah “penyembahan anak sapi” oleh Bani Israil dalam Surah Al-Baqarah ayat 51–54 juga menjadi gambaran tentang bagaimana manusia dapat berpaling dari tauhid meskipun telah menyaksikan begitu banyak tanda dan pertolongan Allah.
Baru saja Bani Israil menyaksikan Nabi Musa As membelah laut atas izin Allah, lalu segera setelah itu mereka mengikuti hawa nafsu dan simbol-simbol yang menyesatkan. Mereka segera meninggalkan tauhid yang suci dan tidak mengikuti Nabi Musa.
Jadi, karakter Yahudi itu gemar melanggar dan bahkan saat Nabi Musa sendiri ada di Tengah-tengah mereka. Maka tidak heran, jangankan Nabi Muhammad Saw yang bukan dari kalangan mereka sendiri, sementara Nabi yang berasal dari kalangan mereka sendiri saja mereka ingkari, mereka lawan bahkan hingga mereka bunuh.
Oleh sebab itu, dari sejumlah karakter Yahudi yang dibicarakan Al-Qur’an dan kita kutip disini, kita akan bisa melihat karakter mereka melalui pidato Netanyahu di PBB yang mencerminkan sepenuhnya karakter buruk Yahudi dan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an yang membicarakan karakter mereka.
Pidato Netanyahu yang menyebut para diplomat PBB sebagai “pengecut moral” tidak akan membuat dia menjadi pemberani secara moral. Pidato Netanyahu di PBB tidak akan mengubah pandangan dunia terhadap Israhell sebagai entitas penjajah dan pelaku Genossida di Gaza.
Pidato dan serangan dia kepada para diplomat PBB tidak akan membuat dunia melupkan kejahatannya di Gaza, Lebanon hingga Suriah. Dunia tidak akan selamanya bisa dibodoho oleh Netanyahu.
Dan kita, berterimakasih kepada para diplomat PBB yang bersedia keluar dari ruangan saat Netanyahu pidato.
Walaupun aksi walk out itu tidak akan menghentikan kejahatan Israhelll di Palestina, Suriah hingga Lebanon, namun, tindakan apapun dari para diplomat PBB yang membuat Netanyahu sakit, itu adalah hal yang menggembirkan hati-hati yang terluka akibat penjajahan Israhell di Palestina, serangan mereka ke Lebanon hingga Suriah.
Dan terakhir, sebagai muslim, saat shalat kita wajib membaca surah Alfatihah di setiap rakat shalat kita.
Ketika kita membaca “Ghairil Maghdhu bi ‘Alaihim”, atau …”bukan jalannya orang-orang yang dimurkai (oleh Allah)”… Maka, itulah maknanya kita senantiasa dibimbing oleh Allah Swt untuk berdo’a kepadanya agar kita tidak mengikuti sifat atau karakter dari “orang-orang yang dimurkai oleh Allah”, yaitu Yahudi.
