- Diposting oleh : Hamba Allah
- pada tanggal : September 14, 2026
BANDA ACEH — Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) memperingati Malam Puncak Peringatan Milad ke-27 di Aula Asrama Haji Aceh, Banda Aceh, Senin (14/9/2026) malam. Pantauan Serambi di lokasi, malam puncak Peringatan Milad HUDA ke-27 yang mengusung tema “Menjaga Ilmu, Merawat Adab, Menaati Guree Umat”, tersebut dihadari berbagai pimpinan dayah dan sejumlah ulama karismatik Aceh, di antaranya Tgk H Hasanoel Bashry (Abu Mudi), Teungku H Nuruzzahri Yahya (Waled NU), Tgk H M Daud Hasbi, dan beberapa ulama lainnya.
Selain itu juga hadir, Kepala Brigjen Pol Dedy Tabrani, Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Muhsin Thahir, Anggota DPD RI Tgk Ahmada, Bupati Aceh Besar Muharram Idris (Syech Muharram), perwakilan dari Polda Aceh, Kodam IM, dan juga Kejati Aceh.
Dalam kesempatan itu, Ketua Umum PB HUDA, Tgk H Anwar Usman atau akrab dikenal Abiya Kuta Krueng, mengenang kembali perjuangan para ulama dalam menjaga perdamaian Aceh saat HUDA lahir di tengah konflik. Menurutnya, perjalanan HUDA selama 27 tahun bukanlah waktu yang singkat. Organisasi tersebut lahir ketika Aceh berada dalam situasi konflik dan Darurat Militer.
“HUDA lahir bukanlah waktu yang singkat. Perjalanan dengan bertatih-tatih. Lahir di dalam konflik, Aceh lagi bergejolak, lagi Darurat Militer,” kata Abiya. Karena itu, Abiya menilai, malam peringatan Milad ke-27 menjadi momentum untuk kembali mengingat sejarah kelahiran HUDA yang dideklarasikan di Makam Syiah Kuala.
Ia menegaskan, hingga kini HUDA masih aktif menjalankan peran sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan Aceh. Untuk itu, Abiya berharap momentum Milad ke-27 dapat memperkuat kembali rasa persaudaraan di antara para ulama. Ia juga menegaskan HUDA merupakan rumah besar dan wadah pemersatu ulama Aceh.
“Kesempatan yang baik pada hari ini mari kita mengenang kembali untuk mewujudkan rasa persaudaraan di mana HUDA ini merupakan rumah besar para ulama, wadah pemersatu,” katanya. “Di sinilah kita berdiskusi untuk kemaslahatan Aceh, untuk kemaslahatan agama,” pungkasnya.
Sementara itu, Kadis Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin, dalam sambutannya mengungkap, bahwa 27 tahun HUDA merupakan perjalanan panjang dalam menjaga tradisi keilmuan Islam, memperkuat peran ulama, membina generasi muda, serta berkontribusi bagi masyarakat Aceh.
Menurutnya, HUDA merupakan kekuatan sosial keagamaan yang strategis. Karena itu, Pemerintah Aceh memandang ulama dan dayah sebagai mitra utama dalam membangun generasi Aceh yang beriman, berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu menghadapi tantangan zaman.(Sumber: Harian Serambi Indonesia)
